Memangkas Rantai Perdagangan Broiler

Jumat, 8 November 2013 (16:47:55)

diposkan 8 November 2013

Modernisasi hilir produk broiler secara otomatis memangkas mata rantai perdagangan. Komparasi harga 1 kg live birddengan 1 kg karkas perlu dikritisi. Tata hitungnya harus diluruskan karena 1 kg karkas setara 1,5 live bird

Selama ini para peternak dan pebisnis broiler (ayam pedaging) memegang pola pasar tahunan yang menunjukkan, harga komoditas ini akan terjun bebas selepas lebaran. Baik harga live bird (broiler hidup) di tingkat peternak maupun harga karkas/daging ayam di tingkat konsumen. Para pelaku umumnya sudah mafhum dengan karakter pasar ini, dan sebagian melakukan antisipasi.

Tetapi tahun ini terjadi anomali. Pasca lebaran lalu meski harga di level peternak merosot sampai kisaran Rp 14 ribu – 16 ribu per kg live bird, harga karkas ayam di tingkat konsumen bertahan tinggi di level Rp 32 ribu – 34 ribu per kg. Sehingga konsumen mengeluhkan harga yang tinggi, padahal peternak sudah tertekan harga yang di bawah ongkos produksi. ”Ini luar biasa kesenjangannya,” komentar Wakil Menteri Pertanian RI, Rusman Heriyawan kepada wartawan di sela acara Ildex Indonesia 2013 awal Oktober lalu.

Rusmanmengaku, ia sempat berharap komoditas broiler akan menjadi variabel pendorong defaluasi karena turunnya harga live bird. Tetapi yang terjadi sebaliknya, daging ayam justru berkontribusi pada nilai inflasi pasca lebaran. Ini dikarenakan, inflasi bukan dihitung berdasarkan harga di tingkat produsen, melainkan ditentukan indeks harga di tingkat konsumen. “Sehingga, meski broiler turun, tapi karena karkas naik, ini menyumbang inflasi,” kata Rusman.

Tetapi Rusman mewanti-wanti, harga yang melambung di tingkat konsumen ini bukan karena produk langka, melainkan tata niaga broiler yang terlalu panjang. Karena itu ia sempat menyatakan, tidak tepat apabila fakta harga yang tinggi kali ini dijadikan alasan untuk membuka keran impor ayam dengan dalih agar harga di tingkat konsumen turun. “Ini bukan tidak mampu produksi, melainkan rantai perdagangan harus dikoreksi, dibuktikan harga di tingkat peternak masih rendah,” tandasnya lagi.

Rusman menilai perlunya dilakukan kajian pasar. “Perlu dirunut kayak urut kacang, dari bawah mulai Rp 14 ribu di peternak, kemudian tiba-tiba jadi Rp 32 ribu itu dimana, harus dikaji,” sambung dia.

Selama ini, kata Rusman, perdagangan daging ayam dinilai sudah berjalan sendiri sesuai mekanisme pasar. “Tetapi kalau kondisinya seperti ini, mungkin pemerintah harus turun tangan,” tegas Rusman. Bisa saja digunakan produk hukum untuk mengatur, misalnya peraturan menteri pertanian, kalau itu dinilai efektif. Kalau pun tidak dalam bentuk peraturan, lanjut dia, semua pemangku kepentingan dipertemukan untuk kajian perbaikan.

Menyoal kekhawatiran bakal dijerat oleh KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha), karena dinilai melanggar UU persaingan usaha, Rusman menukas, “Kalau yang ngatur pemerintah tidak apa-apa dong. Demi kebaikan!” Ia megaskan, pemerintah justru hendak memperbaiki sistem supaya ada keadilan. “Niat pemerintah itu baik. Bukan mengatur tetapi me-review kemudian memperbaiki tataniaganya,” ujar Rusman.

Pasca Panen Belum Modern
Ketua Gabungan Perusahaan Perunggasan Indonesia, Anton J Supit mengatakan, 80 – 90% cara-cara dalam budidaya (on farm) broiler sudah modern. Sayangnya, di aspek hilir atau pasca panen justru 80 % pemasarannya belum modern, masih mengandalkan pasar tradisional. “It is OK. Tapi yang diperlukan adalah jalurnya dipersingkat,” tambah Anton.

Ketua Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Tri Hardiyanto menghitung ada sembilan titik mata rantai distribusi broiler, sebelum daging ayam sampai di tangan konsumen. Mulai dari peternak, penampung, RPA (Rumah Potong Ayam), cold storage, pedagang besar/tengkulak, agen, pedagang ayam di pasar induk/pasar becek/bakul, pedagang ayam pengecer/gerobak, dan barulah konsumen.

Tri mejelaskan,80%live bird hasil budidaya secara nasional dijual ke pasar becek, dan melaluibroker(bakul atau pedagang) terlebih dahulu. Sebelum sampai pasar becek, biasanya broiler dijual ke broker DO (Delivery Order) ayam hidup, kemudian broker besar menjual ke pengepul, barulah ke pedagang – pedagang yang selanjutnya dipotong lalu dibawa ke pasar. Sementara untuk target pasar modern atau industri lebih pendek, broilerbiasanya langsung dibukakan DO ayam hidup kemudian ke RPA dan selanjutnyake pasar modern dan industri.

Sejalan Perda DKI
Tetapi menurut Tri, rantai perdagangan dapat diperpendek apabila peternak mampu mengakses langsung ke pasar. Selain mengoreksi harga, dengan cara ini kontrol cold chain (rantai dingin) peredaran ayam jadi berjalan lebih memadai.

Demi efisiensi, Tri menyarankan peternak dengan populasi di atas 200 ribu sebaiknya punya RPA sendiri atau pasar sendiri sehingga bisa langsung mengakses pasar modern atau pasar becek. Dan pemerintah, imbuh Tri, harus memberikan insentif berupa keringanan pajak atau kemudahan akses pasar.

Ide pemangkasan mata rantai perdagangan broiler, sejatinya terkandung dalam Perda DKI No 4/2007. Aturan tentang penataan peredaran unggas di wilayah Ibukota ini digagas untuk tujuan tersedianya karkas unggas yang sehat dan higienis, serta mengendalikan penyebaran penyakit asal unggas utamanya flu burung. Sebagaimana dituturkan Anton, aturan tersebut bila dijalankan secara otomatis akan memotong rantai perdagangan yang panjang dan sekaligus memberikan kontrol pada rantai dingin.

Sayangnya aturan yangdikeluarkan 7 tahun lalu ini jalannya tersendat-sendat. Padahal apabila rantai dingin sudah berjalan dengan baik maka akan tersedia ayam yang dipotong dengan cara yang sehat, halal, dan higienis. “Tapi tadi Pak Wagub DKI dan Pak Wamen sudah sepakat untuk mendorong berjalannya perda ini, dan akan di-follow up Pak Dirjen PKH,” kata Anton saat mendampingi Rusman.

Para pedagang broiler yang selama ini memotong di lokasi sembarangan, akan diarahkan menjual produk dalam bentuk karkas beku dilengkapi pendingin. Pedagang yang jumlahnya ribuan ini diedukasi untuk berdagang ayam yang aman, sehat, utuh dan halal (ASUH), tak perlu memotong sendiri ayamnya melainkan mengambil dari RPA berstandar resmi. ”Mereka jangan sampai kehilangan mata pencaharian, diakomodir dalam sistem yang dipayungi perda ini. Tapi jangan lagi memotong asal-asalan,” tutur Anton.

Keuntungan lain, berkembangnya rantai dingin pada jalur distribusi ayam juga berfungsi sebagai buffer (penyangga) harga. Kelebihan suplai ayam akan masuk rantai dingin, dan dilepas saat harga membaik. Sehingga harga ayam relatif stabil tidak berfluktuasi tajam seperti sering terjadi saat ini.

Preferensi Ayam Dingin/Beku
Dikatakan Tri, cara-cara ini akan menguntungkan semua pihak. Harga stabil peternak untung, rantai perdagangan lebih pendek konsumen mendapat harga lebih baik, dan pemerintah diuntungkan karena kontrol penyakit berjalan lebih efektif. Imbuh Tri, yang diperlukan adalah membiasakan masyarakat dengan ayam beku.

Tetapi Dayat agak skeptis, pola ayam dari peternak langsung ke RPA masih sebatas teori. Pasalnya kapasitas RPA saat ini jauh dari cukup untuk mampu memotong seluruh suplai ayam yang ada, jumlah yang diserap hanya kecil. ”Berapa banyak yang bisa dipotong RPA? Kapasitas paling gede saja cuma 80 ribu ekor sehari. Perlu banyak sekali RPA baru mungkin menjalani pola itu,” ujar Dayat.

sumber: trobos.com

 

Artikel Lain
Produk Kami
13
Merupakan jenis ayam kampung dengan galur baru yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian
12
merupakan salah satu ayam hias yang unik dengan bulu berwarna putih seperti kapas
7
Sapi Brahman mempunyai daya tahan dan kemampuan beradaptasi yang tinggi
10
Merupakan salah satu sumber protein hewani dan merupakan cikal bakal embrio ayam
9
Merupakan pupuk organik pilihan yang tepat karena zat yang terkandung di dalamnya sangat membantu pertumbuhan tanaman