Broiler : Fluktuasi, Buffer, dan Informasi

Jumat, 8 November 2013 (16:48:44)

DIPOSKAN : 8 nOPEMBER 2013

Rantai pasok (supply chain) broiler oleh sebagian pihak dinilai belum efisien. Terlalu banyaknya mata rantai, menjadi sebab harga di tingkat konsumen tinggi sekalipun harga di peternak rendah.

Pakar agribisnis IPB Arief Daryanto mengatakan, harus ada cara mengintegrasikan sub-sistem hilirke sub-sistem on farm. ”Tapi kalau masih fragmentatif seperti sekarang, sangat sulit,” kata Arief.

Tak semua peternak setuju rantai perdagangan terlalu panjang. Djody Hario Seno, peternak Bekasi menilai rantai distribusi tidak terlalu panjang. Ia justru menyoroti fluktuasi harga ayam hidup (live bird) sebagai persoalan peternak.

Saat harga rendah di level peternak, menurut Djody lebih disebabkan over supply, bukan akibat ditekan oleh para pedagang yang banyak mengambil untung. Tekanan semakin berat karena harga komponen pakan dan DOC (Day Old Chicken)meroket, sehingga HPP (Harga Pokok Produksi) membengkak dan peternak rugi. Saat dikonfirmasi, ia menyebut harga broilerdi Bekasi berkisar Rp 14.000 – Rp 15.000/kg (16/10), harga ini di bawah HPP.

Ketua Gappi (Gabungan Perusahaan Perunggasan Indonesia) Anton J Supit mengamini, saat itu harga broiler di tingkat peternak Rp 14.000, sementara HPP di kisaran Rp 18.000 (3/10).

Menurut Ketua GOPAN (Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional) Tri Hardiyanto, yang harus dikendalikan adalah harga DOC jangan sampai Rp 7.000. Idealnya tidak lebih dari Rp 5.000, agar HPP di kisaran Rp 17.000/kg, sehingga live bird dilepas peternak Rp 17.500 – 18.500. ”Harga itu yang diharapkan peternak, dan harusnya di tingkat konsumen tidak lebih dari Rp 35.000/kg,” ujar Tri.

Perbaikan Sistem Informasi
Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Pasca Panen (Kesmavet dan Pasnen), Akhmad Junaidi yang akrab disapa Didik juga menilai ketidakseimbangan supply dan demand merupakan penyebab ketidakstabilan harga ayam dan DOC.

Ketidakstabilan harga yang kerap dikeluhkan, menurut dia dipicu 5 faktor. Sistem distribusi ayam hidup yang tidak segera merespon penurunan DOC, rantai pasar dan logistik masih panjang, preferensi ke konsumen masih lemah, konsumen lebih suka konsumsi ayam fresh atau ayam hidup, dan demand di Indonesia yang musiman sangat tergantung pada momen tertentu. Tambah Didik, penggalakan konsumsi ayam dingin/beku menjadi salah satu cara menstabilkan harga ayam.

Buffer
Anton Supit sepakat, rantai dingin menjadi satu solusi. ”Kalau sudah jalan, ayam akan masuk rantai dingin. Ini bisa menjadi bufferagar harga tidak naik turun.” Memperdagangkan broilerdalam keadaan hidup seperti saat ini, rentan terhadap isu dan spekulasi pelaku “nakal”, sehingga harga kerapkali berfluktuasi.

Djody usul adanya lembaga semacam bulog sebagai pengaman. Wahyu setuju. Tetapi persoalannya, sambung dia, masyarakat belum terbiasa ayam beku. Pasar tidak cukup menyerap produk dalam jumlah banyak, akhirnya dijual walau rugi. ”Alhasil harga terjun bebas, misalnya harga pasaran Rp 14.000 ini jual Rp 12.000,” terangnya.

SUMBER: TROBOS.COM

 

Artikel Lain
Produk Kami
13
Merupakan jenis ayam kampung dengan galur baru yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian
14
Sapi Peranakan Ongole (PO)
8
Merupakan ayam petelur. Produksi telurnya tinggi. Telur menyerupai telur ayam kampung.
7
Sapi Brahman mempunyai daya tahan dan kemampuan beradaptasi yang tinggi
12
merupakan salah satu ayam hias yang unik dengan bulu berwarna putih seperti kapas